* Aaaaarrrrggghhhh.... Bete cinta bertepuk sebelah tangan terus, bikin sensasi yang gak bener, diboongin cowok mulu, selalu bermasalah dengan pelajaran di sekolah!!! Ya Allah... Kapan semua ini berakhir? Apakah ada nazar/janji yang belum aku tepati sebelumnya?
* Cewek bertampang manis, selalu berjilbab, selalu pakai pakaian yg sopan, dan memiliki badan yang selalu diimpikan banyak cewek di dunia termasuk dunia permodelan... Tetapi kenapa tidak ada cowok yang tertarik dengan kelebihanku ini?
31 Juli 2012
28 Juli 2012
Aku Dan Dia Selamanya
Perkenalkan nama saya Medynna, dan saya akan berbagi cerita tentang awal ku memulai persahabatan dengannya. Awalnya saya tidak mengenal dengan Tuti maupun dengan Riska, dan aku hanya mengenal teman disekitar tempat dudukku saja seperti Yani, Raiqa, Risdia (Teteh), Novika, Sari, dan Riski saja, karena saat itu hari pertama saya masuk sekolah dan masih masa MOS. Dan setelah masa MOS berakhir, aku tergabung dengan anak-anak yg jenius, selalu ingin bersaing, dan sangat serius. Setelah aku tahu, kalo aku bukan saingan mereka karena aku tahu kapasitas otakku tidak setinggi mereka, jadi aku sering tidak masuk sekolah karena alasan sakit (ya, memang sakit sih) dan sakitnya itu aku bikin sendiri karena aku merasa paling bodoh diantara teman-temanku yg lain. Dan ternyata gak semuanya itu benar kalo dikelas aku tuh semuanya anak profesor alias IQ-nya tinggi, setelah aku duduk sebangku dengan Dewi tapi aku gak menyebutnya kalo dia tidak memiliki apa yg tidak dimiliki anak-anak profesor itu (maaf ya, Wi!!), tapi biar gitu-gitu juga dia anak IPA 1 lho! Aku kira aku bakal bersahabat selamanya dengan Dewi, ternyata sangat jauh dengan dugaanku. Aku seatmate sama Dewi hanya 3 bulan saja. Setelah itu aku tidak memiliki teman sebangku lagi, karena mereka asik dengan seatmate mereka masing-masing dan tidak peduli dengan aku yg sangat membutuhkan seorang sahabat, tapi aku tidak mau tahu apa yg membuat Dewi menghindariku. Waktu berjalan begitu cepat, aku ingin menyelesaikan masalah disekolah dengan cepat tapi aku tidak bisa karena begitu banyak beban/masalah dirumahku, jadi aku tidak bisa menyelesaikan semuanya apalagi disaat itu aku sedang fall in love dengan seorang mantanku dulu. Saking bingungnya sampai-sampai aku seperti orang bodoh yg baru dilahirkan ke dunia, omaigot.. Sumpah!! Berat banget beban aku disaat itu apalagi orangtuaku menentang keras hubunganku dengan cowok itu sedangkan mamaku juga terlibat fall in love dengan seorang pria asal turki dan tiap malam kedua orangtuaku selalu berantem dan menjadikan aku sebagai pelampiasan mamaku, Oh no!! Dan sangat bodohnya pemikiranku saat itu, aku memutuskan berhubungan diam-diam dengan cowok itu dan mencoba rilex dengan masalah-masalahku ini dengan mentraktir teman-teman dan cowokku itu agar mau menemani jalan-jalan, kalo tidak ditraktir jangan harap teman dan cowokku itu mau menemaniku! Pada hari berikutnya, aku curhat pada salah satu temanku, Tuti (yang dulu aku tidak mengenalnya bahkan aku dan anak-anak yg lain menganggapnya dia sebagai sok kenal dan sok dekat dengan teman-teman cowokku dikelas), dia menghampiriku untuk menyuruhku menceritakan bagaimana kejadian saat malam pertama jalan berdua dgn cowok itu. Dan aku selalu meminta solusi, tanggapan, dan kritik yg tepat pada Tuti agar cowok itu mau menjadikanku sebagai pacarnya dan juga saat aku dengan cowok itu berakhir dengan damai walaupun sangat sakit. Dan hubunganku dengan Tuti berlanjut sampai sekarang, dimana atau kemanapun aku pergi kalo tidak tanpa Tuti aku merasa galau dan sepi, teman-temanku yg lain juga beranggapan seperti itu, mereka selalu menanyakan keberadaan kami berdua kalau salah satu diantara aku dan Tuti tidak hadir. Sebenarnya hubungan aku, Tuti dengan Riska itu terjadi secara ketidaksengajaan saat Riska juga mempunyai masalah dengan seseorang cowok yg tidak aku ketahui wujudnya tetapi diketahui oleh Tuti. Dan kami bertigapun menjadi akrab walaupun Riska selalu tidak menganggap persahabatan diantara aku, Tuti, dan Riska, karena ia selalu berpikir kalau dia hanya sebagai pemeran pembantu tapi tidak bagiku dan Tuti. Kemudian saat kenaikan kelas kami bertiga terpisah, Rizka masuk XI IPA 2, aku masuk XI IPS 3, dan Tuti masuk XI IPS 1. itu membuatku sangat menderita karena kelasku terpisah jauh dengan Tuti, dan Tuti pun merasakan hal yg sama bahkan dia menyuruhku agar aku mengurus kepindahan kelas, awalnya aku pasrah saja, tapi nyerah juga akhirnya. kemudian aku meminta mamaku agar mengurusi kepindahan kelasku. Dan akhirnya diterima...
Langganan:
Postingan (Atom)