18 Oktober 2015

Give up to be girl

Sepertinya aku menyerah menjadi perempuan, karena tak ada laki-laki yang menganggapku sebagai perempuan semestinya.. bahkan kamera pun mengatakan bahwa aku pria berumur 30 tahun T_T

Aku benar-benar lelah berakting sebagai perempuan kalau tidak ada satupun yang menganggapku sebagai perempuan dan aku merasa nyaman menikmati peranku sebagai laki-laki tetapi aku sadar jenis kelamin perempuan.. walaupun aku menyerah menjadi perempuan namun aku tidak akan mengganti jenis kelamin karena aku beriman dan tidak akan melanggar hukum dan agamaku..

Jadi, aku tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli peralatan make up atau peralatan lainnya untuk mempercantik diri.. aku hanya perlu melatih mentalku agar aku tidak lagi untuk berpikiran menjadi perempuan.. seharusnya kemarin sebelumnya aku tidak perlu kembali bersikap menjadi perempuan (feminim) dan tetap menjalani peran sebagai laki-laki, walaupun di otak ku tidak ada lagi kata-kata, seperti cantik, imut, dsb. Yang bersangkutan dengan dunia perempuan (feminim)

16 Oktober 2015

My eyes

Aku pikir aku tidak akan bisa melihat dengan normal (tanpa kacamata atau lensa kontak).. aku selalu berkhayal, hidup tanpa bergantung pada kacamata.. ternyata impian itu terkabul, walaupun tidak bisa sembuh total tetapi aku tidak bergantung pada kacamata lagi.

Dulu penglihatanku hanya terbatasi oleh bingkai kacamata, alhamdulillah.. sekarang aku bisa melihat dengan normal, jelas, tidak buram. Tulisan sekecil dan jarak yang cukup jauh pun aku bisa melihat dengan jelas, bahkan saking jelasnya, bulu mataku pun juga terlihat samar-samar dan cukup mengganggu..

Aku melakukan operasi tanam lensa pada retina (aku lupa nama jenis operasinya). Aku pikir aku akan operasi laser (lasix), tetapi kelainan pada mataku ini sangat parah untuk orang seumur ku. Minus pada mata kiri ku 18 dan minus mata kanan 0,8 .. bahkan dokter yang memeriksaku pun terkejut dengan minus ku itu.

Aku dioperasi di Rumah Sakit Mata YAP Yogyakarta.. sebenarnya tidak ada niatan untuk operai disana, namun tante ku yang juga sudah operasi mata disana merekomendasikan untuk operasi disana. Selain murah dibandingkan harga rumah sakit lainnya di Jakarta atau Surabaya juga tempatnya tidak seperti dirumah pada sakit pada umumnya, bahkan aku merasa dirawat dirumah sendiri. Kebersihan dan keramahan perawat dan staff lainnya tidak ada tandingannya dengan rumah sakit di daerahku.

Yaaa.. walaupun aku bisa melihat dengan bebas tidak dibatasi oleh bingkai kacamata lagi, tetapi resiko terlepasnya lensa yang ditanam didalam retina lumayan menghantui ku.. ada beberapa hal yang aku tidak bisa lakukan lagi pada area mata ku, seperti mengucek mata dan menunduk kepala terlalu lama.. itu seperti anjuran dokter mataku untuk tidak melakukannya supaya lensa yang ditanam tidak terlepas dan mataku akan melihat dengan buram dan harus operasi ulang untuk penanaman lensanya..

12 Oktober 2015

Dont worry about me

Oh.. please, kalau aku tulis disini, orang-orang akan mengetahui aku yang sebenarnya (apa yang terjadi didalam diriku saat ini).

Dimulai dari mana yah? Mmmmhh... okay!

Aku mengutip perkataan dari nenekku beberapa jam yang lalu, "jangan berteman sama cowok ya!" Okay, just it.. terus aku tambahkan dengan pekataan ibuku yang sudah sering ia ucapkan padaku namun aku tidak hiraukan, "kamu punya pacar belum? Punya gebetan? Atau cowok lagi lirik atau ditaksir dikampus?". Hhuufftt.. entahlah aku harus mengikuti perkataan yang mana?! Tapi untuk saat ini aku tidak tertarik pada lawan jenis (omegat.. semacam LGBT?).. NO, big no no!! Aku sempat berpikiran juga bahwa aku akan menjadi Lesbian tetapi aku hanya ingin menikmati hidupku sendiri walaupun aku juga menginginkan pasangan untuk menemani sepanjang perjalanan hidupku ini, yaah.. soalnya teman-temanku pada punya gandengan!! Lah aku? Masa gandengan sama tiang listrik? ~T_T~

Inti permasalahan yang saat ini sedang berlangsung 'panas' didalam diriku, jiwaku dan sebagainya adalah dengan mengutip perkataan Jiho dari komik Untouchable: "kupikir semua orang-orang di sekitarku suatu saat akan meninggalkan ku, karena mereka tidak pernah sungguh-sungguh mencintai orang seperti aku.. bahkan kalaupun ada yang mengatakan suka pada ku, namun aku tidak merasakan apapun.. Aku tidak tahu cara mencintai seseorang, karena aku tidak pernah dicintai".

Didalam perkataan itu sudah mencakup apa yang terjadi sebelumnya padaku tentang aku yang sangat mencintai seseorang (bahkan rela menghabiskan banyak uangku untuk bisa bersamanya) dan orang itu menyia-nyiakanku dan memanfaatkan kebaikanku dan harta orangtuaku.. dan akulah sendiri yang tersadar bahwa usahaku sia-sia dan memutuskan untuk benar-benar berhenti jatuh cinta pada pria untuk kesekian kalinya dengan menanam prinsip pada pikiranku bahwa kalau: 'aku jatuh cinta pada pria maka aku adalah aku seorang gay'. Kenapa aku mengatakan dalam pikiranku bahwa aku gay? Karena tidak satupun laki-laki yang aku temui mengatakan secara langsung (bertatap muka) bahwa aku itu cantik, jadi aku menyimpulkan sendiri bahwa mereka sedang melihatku sebagai seorang pria dan Saat ini aku sangat nyaman dengan prinsip itu, walau aku sangat menghapus prinsip itu, bcause I wanna be normal like other girls yang menyibukkan diri untuk tampil sempurna dihadapan laki-laki.

Untuk saat ini aku tidak bisa menghapuskan prinsip itu pada otak ku karena sangat banyak koneksi permasalahan didalam diriku yang saat ini belum terselesaikan menyangkut prinsip itu sendiri.. sangat banyak kaitan masalahku pada prinsip itu. Aku tidak tahu kapan prinsip itu akan benar hilang dalam otak ku, kecuali aku mengalami gegar otak dan memutuskan untuk operasi plastik, Muehehhee... ^(oo)^ (terlalu berlebihan dan abaikan).

Be Honest

Sekarang zaman sudah benar-benar berubah. Dimana orang yang berkata bohong lebih disukai dan dikagumi, sedangkan orang yang berkata jujur dijauhi dan dihina..

Pada kenyataannya, berkata jujur memang menyakitkan namun apa yang disampaikan apa adanya dan tidak ditutupi, mmhh.. sungguh ironi!

Dulu aku suka berbohong dan ada kejadian yang disaat aku diperlakukan sebaliknya itu rasanya sama sekali tidak menyenangkan, dan saat itu pula aku memutuskan untuk tidak berkata bohong lagi dalam pembicaraan apapun. Dan sampai detik ini pun, aku selalu berkata apa adanya, sesuai apa yang terjadi, dan itupun orang disekitarku merasa hal itu sangat mengganggu dan mereka pun berpendapat bahwa aku memiliki mulut (omongan) yang pedas. Padahal disisi lain, aku berkata jujur apa adanya, tanpa ditambah atau dikurangi sedikitpun. Kalaupun aku berbohong, aku benar-benar membutuhkan banyak lembaran naskah untuk dihafal dan ditampilkan kepada orang-orang agar niatku untuk berbohong tidak ketahuan. Dan berbohong itu sangatlah sulit, apalagi ditambah dosa (bagi yang beragama), image yang buruk dimata orang lain, dan sebagainya.