22 September 2018

I'm sorry

Maaf kalo aku tidak normal..
Maaf kalo aku tidak bisa mengontrol diri..
Maaf kalo aku tidak sepintar yang kalian harapkan..
Maaf kalo sesempurna yang kalian harapkan..
Maaf kalo aku banyak mengeluh..
Maaf kalo aku sangat membebani kehidupan kalian..
Maaf kalo aku tidak bisa menjadi orang yang kalian harapkan..

Maaf, kalo aku sudah menyerah~~

Jadi, kalian tidak perlu lagi memarahi ku..
Kalian tidak perlu capek-capek mencari banyak uang untuk memenuhi keperluan ku..
Kalian tidak perlu lagi mengancam ku..
Kalian hanya cukup menghidupi adikku saja, terus banggakan dirinya.. Anggap saja kalian tidak pernah menghidupi ku..

30 Agustus 2018

My big question of life

*sad n' cry*
Kenapa Moceng duluan yg pergi? Kenapa kita ga pergi bersama-sama? Kenapa Moceng tega meninggalkanku sendirian disini?

Note: Moceng itu kucing kesayanganku.. My mood booster di kala sedih, marah hingga stress.

Ya ampun..
Sampai kapan aku harus berakting baik-baik saja?
Sampai kapan aku berhenti mengonsumsi obat alergi walaupun tidak dalam alergi menyerang alias sudah kecanduan hanya untuk memanfaatkan efek obatnya yang bikin mengantuk dan terlelap tidur?
Sampai kapan aku mengalah?
Sampai kapan aku berhenti mengeluarkan air mata?
Sampai kapan otak ku berhenti berpikiran untuk mengakhiri hidupku?
Sampai kapan otak ku mengontrol tanganku untuk berhenti mencekik leherku atau melilitkan Headset ke leherku?

Adakah yang ingin mengambil nyawa ku?
Adakah yang hidupnya sudah di vonis mati namun ingin hidup lebih lama untuk bertukar nyawa denganku?
Adakah cara untuk berpindah alam tanpa bunuh diri?

3 Juli 2018

What's wrong with me?

Mungkin pembahasan sama seperti yang dulu-dulu, hanya saja aku belum bisa menemukan jalan keluar permasalahannya yang sangat rumit dan membingungkan..

Sepertinya ini titik puncak depresi ku, karena sudah mendekati masa magang sebagai guru, persiapan proposal skripsi,  dan test sertifikasi sbg guru.. Dan semacam itulah penyebab utama depresi ku, karena itu bukan keinginan ku dan aku harus berusaha berontak agar semua itu hanyalah angan yg tidak akan pernah terjadi dalam sepanjang hidupku.

Kenapa aku harus berontak? Karena  psikis yg ku derita bertolak belakang dengan semuanya dan aku seperti ditengah-tengah 2 magnet yg saling berjauhan apabila berdekatan..

Kembali ke topik utama, kenapa aku merasa semua itu salah ku? Why? Wae? Nande?

Sebenarnya hidupku itu simpel, lurus tanpa ada kerikil yang aneh-aneh.. Maksudku, aku tidak pernah mencari atau melakukan masalah remaja pada umumnya. Aku tidak pernah minum-minum, aku tidak pernah memakai obat-obatan terlarang, aku tidak pernah pulang larut tengah malam, aku tidak pernah merusak hubungan orang lain, aku tidak punya koleksi mantan yang banyak, aku tidak pernah meminta belikan barang-barang branded mahal, aku tidak pernah merengek rewel bawel meminta belikan sesuatu barang. Serius, aku tak pernah lakukan itu semua, tetapi kenapa ibuku selalu menganggapku aku bersalah!

Aku bangun tidur, bersalah, aku mengerjakan tugas kampus di luar rumah, bersalah, aku jalan-jalan sekedar refreshing dari semua kegiatan yang padat bersama teman-teman, bersalah.. Mungkin kalo aku masih bernafas bersalah juga...

Benar-benar aku bingung dengan keadaan ku sekarang, aku tidak menginginkan yang macam-macam atau aneh-aneh.. Yang aku inginkan sekarang itu hanyalah ketenangan yang abadi, aku ingin masuk terkurung dalam ruang isolasi agar aku tidak terpaut dengan dunia luar lagi, aku sudah lelah dengan semuanya, aku tidak tertarik lagi dengan dunia luar.

26 Mei 2018

Kefrustasianku

Padahal kalo dilihat dari sudut pandang orang lain, sebenarnya hidupku ini simpel, sempurna, idaman oleh anak-anak lainnya..

Malah yang menghancurkan ku dari sejak lahir sampai sekarang ku berdiri itu adalah orang (sangat) terdekat bahkan orang yang telah melahirkan ku ke dunia ini. Jujur sejak kecil, aku selalu melakukan percobaan bunuh diri dan itu tetap aku lakukan sampai sekarang.. Aku tak tahu kapan hidupku benar-benar berakhir~

Aku tidak menjual diriku sebagai pelacur, aku tidak minum alkohol, aku tidak memakai obat-obatan terlarang, aku tidak mengganggu pacar atau suami orang, aku tidak mengganggu hidup orang lain, aku selalu berada dirumah, rajin melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan dan sebagainya, tapi kenapa ibuku malah menghancurkan jiwa ku, kepercayaan ku, harga diri ku terhadap diriku sendiri??

Aku tidak meminta yang sesuatu yang berlebihan, aku cuma ingin aku hidup tenang dengan cara diri ku sendiri, berhenti berpikiran mencoba mengakhiri hidup, dan benar-benar tersenyum dari hati yang terdalam tanpa perlu memakai topeng kesana kemari.. Bisakah itu terwujudkan?

Salahkah bila aku mempertahankan keinginanku agar ku bisa hidup bahagia? Tidak bolehkah aku bahagia dengan caraku sendiri? Kenapa orang-orang selalu melihatku seolah-olah aku orang yang tidak pernah mensyukuri keadaan, dan berlebihan terhadap suatu masalah?

Aku tau keluarga ku tidak pernah peduli dengan keadaan ku (jiwa dan kesehatan batin).. Mereka selalu menyalahkanku yang berlebihan bila menghadapi suatu masalah, mereka tidak peduli tentang aku yang menjadi korban bully sejak lahir dan mirisnya lagi mereka juga ikut-ikutan membully fisik maupun verbal ku (sampai sekarang), mereka tidak peduli apakah aku sanggup menjalani hidup atau tidak.

21 Maret 2018

Why u changeable?

Labil, super duper malah~.. Sampai ku bingung yang mana sifat aslinya sebenarnya.

Cuma karena papa lagi belum banyak dapat job, kemudian pemasukan menipis.. Bukannya bantuin mikirin atau cari solusi, malah bikin aku stres. Mencoba mencari kesalahan dan keburukanku.

Dimulai dari yang bertolak belakang dengan hukum agama, aku suka dengerin musik, terus dia ngasih tau kalo itu haram ditambah dengan semua haditsnya dibacain.. Bodo amatlah, cuma itu satu-satunya cara yg bikin aku rileks menjalani hidup. Dia mengomentari cara berpakaian ku, dihh~ ga sadar apa? Tu pakaianmu se-lemari nganggur, mending di jual kek yang ga dipakai lagi, lumayan bisa bantu nyari solusi biar ga memberatkan beban papa atau kalo mau ada unsur agamanya, di sumbangkan, kasih ke orang daripada mengomentari cara berpakaian aku atau isi lemari ku yang cuma ga seberapa..

Pokoknya kalo lagi ga ada pemasukan yg lebih, dia malah ingat mati. Seolah-olah berat banget beban hidupnya cuma karena ga ada pemasukan yang lebih. Dikit-dikit ingat mati, baper ingat mati, aku bahas promo atau diskon suatu barang, ingat mati. Mewanti-wanti aku tuk sewajarnya aja, (ingin ku berkata kasar!!!!). Coba banyak pemasukan yang lebih, boro-boro ingat mati. Rela bolak-balik pasar atau butik mengincar pakaian baru.. kalo beli satu rasa kurang, balik lagi nyari ke pasar atau butik atau malahan nyari di olshop pokoknya harus dapat hari itu juga.

Entah kenapa jadi kepengen nulis kayak gini. Ini tuh sampai ke bawa mimpi saking stresnya ku menghadapi sifatnya yg satu ini~.. Rasanya pengen menggosok muka-ku ke dinding biar rata kayak Slenderman.

1 Februari 2018

There is no passion..

Cobaan seperti apa lagi ini? Sampai kapan ini berakhir? Kenapa harus terjadi kepadaku? Apakah harus aku sendiri yang mengakhirinya atau menunggu dari yang Berkuasa-lah yang mengakhirinya?

Dari sekian jutaan bibit sperma yang dihasilkan, kenapa harus aku yang terkuat dan dilahirkan? Dan nyatanya setelah aku lahir, aku lah paling lemah di antara anak lainnya. Aku tidak bisa berontak, tidak bisa menulis perjalanan hidupku sendiri, selalu dihina dan diremehkan. Bahkan sampai saat ini aku selalu berharap semua ini hanyalah mimpi yang panjang yang suatu saat aku bangun dari mimpi buruk ini.

Tidak ada yang bisa membantuku keluar dari semua ini, bahkan keluargaku lah yang penyebab utamanya. Tidak ada satupun orang yang kupercaya. Haruskah aku melakukan dan mengakhirinya? Sungguh aku tidak tahu sampai kapan lagi semuanya terjadi dan terulang lagi.

Ku mohon siapa pun, tolong bantu aku mengakhiri hidupku..

Aku tidak peduli lagi kalau aku telah menyia-nyiakan nyawa ku sendiri yang bahkan banyak orang diluar sana berharap memiliki kesempatan hidup lebih lama lagi.. Tapi apalah dayaku, aku melakukannya karena depresi beratku derita selama ini, karena tidak ada yang aku ingin lakukan apapun. Toh, semuanya pasti kan berakhir dikemudian harinya~

19 Januari 2018

Urusanku bukan urusanmu

Aku heran kenapa semakin bertambahnya umurku semakin suka mengurusi urusanku dan membenci apa yang ku sukai.. Padahal aku tidak melakukan hal yg sama atau pun melarang apapun yg dia perbuat, tapi kenapa dia selalu memandang apa yg lakukan itu salah?

Pertama, dia melarangku mendengarkan lagu karena haram, padahal dianya malah suka keluar malam karaokean sama teman-teman prianya, menyetel acara musik tiap pagi dan malam. Sedangkan aku, aku tidak melakukan apa yg dilakukannya, aku hanya rebahan menunggui kucing makan sambil mendengarkan lagu menggunakan headset ditelingaku (aku tidak pernah mendengar lagu menggunakan speaker atau tanpa menggunakan headset). Kedua, dia melarang ku terlalu sering jalan-jalan bersama teman-temanku atau nongkrong di cafe sampai malam. Padahal dianya, hampir tiap hari atau dalam sehari dari pagi sampai malam jalan-jalan bersama teman-temannya bahkan nongkrong di cafe sampai malam dengan teman prianya, lah aku?! Punya teman cowok cuma satu, kalo jalan-jalan sama teman palingan seminggu sekali itupun dia bilang tiap hari aku keluar rumah, heol~ gak sadar apa dianya?? Ketiga, dia mengirimiku (chat via Whatsapp) hadits yg melarang wanita menggunakan parfum.. Boleh ketawa ga nih?? Hehehehe.. Botol parfum yang ada di kamarku cuma pajangan aja, kalo habis berarti adikku yg menghabiskannya.. Aku?? mana pernah memakainya.. Kebanyakan lupa nyemprotnya atau males karena bakalan hilang aromanya sebelum sampai ditempat tujuan. Sedangkan dia, mmmmhhh.. Seember makainya!!

Jadi, kesimpulannya jangan mengurusi urusanku. Urusi saja urusan masing-masing.. Jangan menjilat air ludah sendiri, jijik tau~

Hobi yang terlarang

Mendengarkan lagu itu haram (katanya berdasarkan hadits yg syahih)..

So? Aku mesti berhenti mendengarkannya selamanya? No way.. Big no no!! Kecuali dosanya sebesar murtad (keluar dari agama islam) baru benar-benar ku mengakhiri hidupku.. 😑

Astaga!! Padahal ku cuma dengerin lagu aja kok engga ngapa-ngapain, engga zinah, engga main narkoba, engga kumpul kebo, engga rusuh juga?! Kenapa sampai ga suka banget melihat ku mendengarkan lagu.. Tapi eh, perasaan apa yg ku lakukan itu semuanya bersalah deh dimatanya, cuma satu-satunya yg engga salah dimatanya yaitu ku mengakhiri hidupku. 😅 (well.. Itu benar-benar akan ku lakukan)

Padahal cuma ini satu-satunya hobi dan cara ku menenangkan diri dari depresi yang ku derita selain tidur.. Aku gak tau mesti ngapain lagi kalo aku berhenti mendengarkan lagu, yang ada malahan depresi ku malah tambah parah~

Apalagi sudah hampir memasuki semester akhir, berarti udah dekat sama yg namanya magang dan skripsi..  S#it.. Dan ini puncak penyebab depresi terbesarku, G. O. D. can I through it?? 💦💦 .. Kuliah bukan pilihanku, kuliah pilihan orang tua ku, jadi setelah lulus nanti alu akan kasih semuanya (sertifikat dan ijazah) ke mereka, karena aku tidak pernah menginginkan benda tersebut dan mungkin aku akan mengakhiri semuanya juga~ karena tidak ada keinginan lagi untul melanjutkan kehidupanku, aku sudah muak dengan semuanya, aku tidak tahan lagi dengan depresi yg ku derita, aku tidak ingin lagi tidur harus dengan mengonsumsi obat alergi (yang efek sampingnya bikin tidur pulas) walaupun aku tidak selalu terkena alergi, aku tidak ingin lagi mendengar dan meurusi apapun sangkut pautnya dengannya lagi.. Aku sudah siap untuk menghadap-Nya walau aku tidak memiliki banyak pahala yg membuatku nantinya masuk surga, aku yakin pasti aku masuk neraka, karena sepantasnya ku mendapatkan siksaan-Nya.